Buku ini menyelami shalat lebih dalam melalui “mata” kearifan seorang syaikh sufi kontemporer, Bawa Muhayyaddin yang membentangkan jalan menuju berbagai realitas dan hakikat yang universal dan terdalam, dan juga melalui “mata” kebijakan sang maestro sufi par excellence abad ketiga belas, Jalaluddin Rumi
Kota Kufah terang oleh sinar purnama. Semilir angin bertiup dari utara membawa hawa sejuk.
Membaca Ayat-Ayat Cinta ini membuat angan kita melayang-layang ke negeri Seribu Menara dan merasakan 'pelangi' akhlak yang menghiasi pesona-pesonanya. Sungguh sebuah cerita yang layak dibaca dan disosialisasikan pada para pemburu bacaan popular yang sudah tidak mengindahkan akhlak sebagai menu utamanya.